| Judul PTK yang baik seharusnya hendaknya memenuhi kriteria singkat, spesifik, jelas menggambarkan masalah yang diteliti, tindakan untuk mengatasi masalah, dan lokasi (tempat) penelitian.Kriteria singkat, secara kuantitatif dapat dibatasi maksimal 15 kata namun sudah memuat masalah yang diteliti dan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut serta lokasi PTK. Untuk membuat judul yang memenuhi kriteria tersebut diperlukan keterampilan guru dalam menggunakan bahasa secara efektif. Kriteria spesifik, merupakan kriteria yang dikaitkan dengan spesifikasi PTK bahwa PTK merupakan penelitian tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran yang terjadi di kelas. Dalam hal ini, kriteria spesifik menggambarkan permasalahan yang dialami dalam proses pembelajaran di kelas tertentu sesuai situasi dan kondisi spesifik dalam kelas tersebut, yang tentunya berbeda dengan kelas lain, atau bahkan sekolah lain.
Kriteria jelas menggambarkan masalah yang diteliti mengandung pengertian bahwa judul PTK hendaknya dibuat secara lugas dan jelas mencerminkan permasalahan penelitian sehingga tidak menimbulkan kerancuan atau bias dalam pemaknaannya. Dalam hal ini, judul PTK jelas menggambarkan bahwa masalah yang diteliti dalam PTK merupakan masalah urgen dan mendesak. Jika tidak segera ditangani, akan membawa dampak menurunnya kualitas pembelajaran dan kompetensi siswa. Permasalahan tersebut diangkat berdasarkan hasil analisis masalah yang jeli dan matang yang dilakukan oleh guru berdasarkan kondisi empiris dan teoretis. Dalam hal ini, guru dapat mengangkat masalah karena menemukan adanya kesenjangan antara kenyataan dan harapan. Dengan kata lain, kenyataan bahwa proses dan hasil pembelajaran yang tidak memenuhi harapan (kondisi ideal) patut dipertimbangkan dan dianalisis urgensinya untuk diangkat menjadi masalah PTK. Kriteria tindakan untuk mengatasi masalah juga harus tecermin dalam judul PTK karena kriteria ini menunjukkan hasil analisis guru dalam upaya mengatasi permasalahan dalam pembelajaran yang dilakukannya, baik melalui kajian empiris dan teoritis. Jika diumpamakan permasalahan yang muncul itu merupakan penyakit, maka tindakan yang dilakukan merupakan bentuk pengobatan dalam menyembuhkan penyakit. Untuk menentukan obat secara tepat maka diagnosis terhadap penyakit yang diderita juga harus tepat. Kesalahan diagnosis akan menyebabkan kesalahan pemberian obat, sehingga bukan kesembuhan yang diperoleh justru sebaliknya akan berakibat fatal bagi penderita. Dalam PTK juga demikian, jika identifikasi dan hasil analisis yang dilakukan guru terhadap permasalahan yang dihadapi di kelas dilakukan secara analitis dan teliti, guru dapat mendiagnosis secara tepat permasalahan yang terjadi dan penyebabnya. Selanjutnya, analisis guru tidak berhenti di sini. Selain dapat menentukan tepat permasalahan yang terjadi dan penyebabnya, guru juga harus dapat menentukan secara pasti tindakan yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dengan tindakan tepat, harapannya permasalahan yang terjadi akan dapat ditangani dengan baik. Kriteria lokasi menunjukkan lokasi PTK. Karena PTK merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas, maka dalam judul PTK diupayakan jelas menunjukkan lokasi kelas PTK tersebut dilakukan. Judul berikut merupakan contoh judul yang memenuhi kriteria PTK: Peningkatan Pemahaman tentang Himpunan melalui Lingkungan pada Siswa SMP ISLAM RENGASDENGKLOK. Judul tersebut singkat; spesifik; namun jelas menggambarkan masalah yang diteliti. |

Assalamu’alaikum wr. wb.
Salam Pramuka!
Walaupun telat moment, saya lebih baik memposting dari pada tidak!
kali ini yangsaya posting adalah makna maulid nabi untuk gerakan pramuka.
Rabiul ‘awal kembali hadir di tengah-tengah kita, ada apa yng terjadi di Rabiul ‘Awal, mungkin pertanyaan itu akan terlontardari kaum awam. 12 Rabiul Awal Tahun Gajah telah hadir seseorang laki-laki yang begitu mulia yang akan merobah kehidupan jhiliyah menjadi msa ilmiah! ya seorang Nabi yang terakhir, penutup segala nabi ! Ya Nabi Muhammad!.
Seorang Nabi yang tidak kenal lelah, tidak pernah putus asa dan tidak pernah takut, dengan kesabaran Ia menyiarkan agama islam dan menunjukan jalan yang lurus kepada umatnya! Subhanallah, Wal Hamdulillah Wala Ilaha Illallah Wallahu Akbar!
1430 Tahun berlalu dari msa Hijriah dan tepat pada hari Kemarin (12 Rabiul ‘Awal) kita semua mengenang dan mengingat kelahirannya! tentu tidak akan ada artinya jika kita lalui Milad Nabi tanpa makna, hanya sekadar acaraserimonial atau rutinitas tahunan! Tapi terkadang kita tidak tahu, kita tidak paham, kita tidak mengerti Makna yang terkandung pada hari itu!
Maulid yang kita rayakan bukan hanya sekadar membaca berrjanji, tabligh akbar, dll. tapi lebih dari itu. Dengan Maulid Nabi seyogyanya kita mencoba untuk mencotoh akhlak nbi walaupun 0,0001%. dan marilah ita lanjutkan perjuang nabi muhammad menyiarkan Islam, karena kalau bukan kita siapa lagi? Maulid kita jadi bahan introspeksi Diri (Muhasabah maulid) bukan ajang menghibur diri (karena aktifitas rutin kita libur pada hari itu) Seyogyanya pada hari tersebut (Maulid Nabi) kita tundukan kepala dan merenung apa yang telah kita lakukan? apakah sesuai dengan syariat yang telah Nabi ajarkan? inilah sebenarnya makna Maulid Nabi (menurut saya)
Dengan Maulid Nabi Muhammad kita kembali bangun dan rajut tali persaudaraan sesama muslim sehingga kita semua bisa seperti umat-umat nabi terdahulu.
Mari kita jadikan Rabiul ‘Awal dan Maulid Nabi Muhammad sebagai media untuk menanamkan Akhlakul Karimah Nabi Muhammad dalam diri kita.
Nah sekarang apa makna Maulid Nabi untuk anggota Pramuka?
1) Dengan Maulid Nabi, kita sebagai Pramuka harus selalu siap terhadap segala permasalahan yang kita hadapi; 2) Dengan maulid Nabi kita lanjutkan cita-cita beliau yaitu menjadikan pemuda sebagai harapan bangsa. 3) Dengan Maulid Nabi kita kembalikan Gerak Langkah Pramuka sehingga seirama dan sejalan dengan perjuangan dan cita-cita Bangsa.
Dan yang tidak kalah penting “Dengan Maulid Nabi, jiwa dan figur Nabi Muhammad ditanamkan kepada para pramuka dan mencontoh Nabi Muhammad yang benar-benar mempunyai jiwa pandu/pramuka murni yang telah memberikan tauladan baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, umatnya maupun pengabdian terhadap Khalik (Allah Swt.) dengan amanat setiap syiar islam harus tetap dipertahankan dan tetap kumandangkan Takbir. Allahu Akbar”
Itulah yang dapat saya sampaikan melalui blog yang tidak sempurna ini, jika ada kesalahan itu adalah murni karena kebodohan saya, dan jika ada sesuatu yang benar yakinlah itu dari Allah.
Semoga bermanfaat.
Akhirul Kalam
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Salam Pramuka
Gerakan Pramuka sebagai organisasi, sebagai wadah, sebagai perumahan adalah gerakan yang nasional untuk seluruh bangsa kita di seluruh Tanah Air kita, untuk menghasilkan kader-kader pembangun yang cakap dan bersemangat bagi penyelenggaraan Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia seluruhnya.
Gerakan Pramuka adalah gerakan yang motor penggerak majunya adalah para sukarelawan, dan daya-penggerak-bekerja, mereka adalah kesadaran, mereka adalah kesadaran mereka yang murni akan kebaikan dan kebenaran tujuan, jalan, dan Usaha Gerakan Pramuka. Peliharah kemurnian ini…..
Berusahalah sehebat-hebatnya untuk mengembangkan dan meluaskan Gerakan kita, sampai pada suatu ketika, setiap anak dan pemuda serta pemudi kita, baik yang mahasiswa di kota maupun di yang penggembala kerbau di desa, dengan rasa bangga dan terhormat dapat menyatakan Aku Pramuka Indonesia.
Intersifkan pendidikan setiap pramuka, supaya setiap pramuka menjadi satu manifestasi daripada tujuan Gerakan kita seperti yang tersebut dalam Anggaran Dasar Gerakan kita.
Arahkan pandanganmu ke bintang Tujuan Bangsa kita dan jalanlah maju dalam barisan Gerakan Pramuka dengan derap langkah yang tetap dan sama, sambil memijak segala kerikil kesukaran yang kecil-kecil dan melangkahi atau melalui atau kalau perlu menggempur segala batu rintangan yang besar …………
No tags for this post.Peran pramuka dewasa ini adalah mengisi kemerdekaan. Gerakan pramuka harus segera melakukan pembaharuan-pembaharuan di berbagai segi. Dalam menyertakan imajinasi dengan perkembangan dan kebutuhan bangsa, Kiasa Dasar Gerakan Pramuka diimplementasikan pada istilah penggolongan usia, yaitu gugusdepan (satuan) yang menggambarkan suatu gugusan yang akan dibangun.
Pramuka Siaga (usia 7-10 tahun) menggambarkan bahwa para pramuka seusia ini menyiapkan/menyiagakan diri untuk pembangunan; Pramuka Penggalang (usia 10-15 tahun) sudah dipersiapkan dalam menggalang pembangunan; Pramuka Penegak mulai tegak ambil bagian dalam pembangunan; Pramuka Pandega secara langsung ikut mandegani pembagunan.
Kegiatannyapun diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang sejalan dengan kegiatan yang tidak saja bermanfaat untuk masyarakat, bangsa, negara dan dunia.
No tags for this post.Pepatah mengatakan bangsa yang luhur adalah bangsa yang menghormati jasa-jasa para pahlawan. Dalam rangka memperingati BP Day 2009 Kwarcab Karawang via DKC-nya menyelenggarakan Lintas Juang 2009.
Kegiatan ini diikuti oleh Pramuka Penegak di Wil. Kwarcab Karawang. Lintas Juang ini dilaksanakan pada tanggal 20 s.d. 22 Februari dengan Route Etape 1 Karangpawitan - Rawagede, Etape II Rawagede - Rengasdengklok.
Kegiatan ini terlaksana dengan baik karena semua pihak bekerjasama dengan baik. Tujuan utama kegiatan ini adalah sebagai wadah silaturohmi antara anggota penegak dan pandega yang berada di Kwartir cabang Karawang, dan yng tidak kalah penting melalui kegiatan Lintas Juang 2009 Anggota Pramuka Penegak dapat mengambil nilai-nilai moral, antara lain: Kerjasama, Tenggangrasa, Tepa salira
Salam Pramuka,
Yang saya posting kali ini adalah fenomena kepramukaan Khususnya di Gugus Depan. Gerakan Pramuka adalah suatu organisasi yang bertujuan untuk menjadikan pemuda indonesia sehingga menjadi manusia berkepribadian, berwatak, dan berbudi pekerti luhur
nah bagaimana bisa tercapai jika dalam gerakan pramuka baik tingkat kwarnas hingga gugus depan, anggota pramuka tidak mengamalkan trisatya dan dasa darma. marilah mulai saat ini selaku pramuka mencoba untuk mengamalkan trisatya dan dasa darma di kehidupan. mari kita bersama-sama untuk belajar merealisasikan tri satya dan dasa darma
Salam Pramuka
Kali ini yang saya posting adalah amanat yang saya sampaikan kepada adik-adikku Anggota scout-moslem, Pasukan Syekh Qurotul ‘Ain dan Ny. St. Walidah A. Dahlan, Gudep 10103-10104, Pangkalan SMP Islam Rengasdengklok, Tepat pada siang tadi tanggal 14-Februari-2009, Jam 12.20 dilaksanakan Upacara Pembukaan Latihan, dan pada kesempatan tersebut saya memberikan amanat untuk adik-adikku.
Amanat tersebut, adalah sebagai berikut:
Assalamu’alaikum wr. wb.
Salam Pramuka !
Pramuka
Tepuk Pramuka
Alhamdulillah puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah swt., yang telah memberikan kita semua ni’mat sehingga bisa hadir pada latihan pasukan di siang ini, Sholawat serta salam marilah kita persembahkan kepada Nabi Muhammad Saw. beserta keluarga, Sohabat dan kita selaku umatnya yang ta’at kepada ajarannya hingga yaumil akhir. amiin.
Adik-adikku, para pemuda & pemudi harapan bangsa, kita semua pada kesempatan siang ini akn berlatih Teknik Kepramukaan, dan tema yang saya bahas pada upacara ini sesuai dengan Dasa Dharma yang pertama, (Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa)
Adik-adiku waspadalah pada hari ini akanterjadi Gerakan pemurtadan agama islam, dengan senjata/media yaitu Valentine Day. Kakak menyarankan untuk tidak mengikuti kebudayaan asing, karena Valentin Day adalah budaya Non Muslim
Sebagai seorang muslim tanyakanlah pada diri kita sendiri, apakah kita akan mencontohi begitu saja sesuatu yang jelas bukan bersumber dari Islam ?
Mari kita renungkan firman Allah :“ Dan janglah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”. (Surah Al-Isra : 36)
Dalam Islam kata “tahu” berarti mampu mengindera(mengetahui) dengan seluruh panca indera yang dikuasai oleh hati. Pengetahuan yang sampai pada taraf mengangkat isi dan hakikat sebenarnya. Bukan hanya sekedar dapat melihat atau mendengar. Bukan pula sekadar tahu sejarah, tujuannya, apa, siapa, kapan(bila), bagaimana, dan di mana, akan tetapi lebih dari itu.
Oleh karena itu Islam amat melarang kepercayaan yang membonceng(mendorong/mengikut) kepada suatu kepercayaan lain atau dalam Islam disebut TAQLID. Hadits Rasulullah SAW :“ Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.
Firman Allah SWT dalam Surah AL Imran(keluarga Imran) ayat 85 :“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.
Adik-adiku mungkin tidak banyak yang akan kakak sampaikan, tapi kakak berharap anggota Pramuka/Scout Moslem tidak mengikuti/merayakan valentine Day,
Selamat Berlatih, teruskan semangat Pemuda-Pemudi ISlam.
Allahu Akbar
Akhirul Kalam Wassalamu’alaikum wr.wb.
Salam Pramuka
Salam Pramuka,
Artikel/Posting ke-2 Blog Competition 2009,
Masih tentang peran kita sebagai anak bangsa, apa yang bisa kita lakukan buat bangsa tercinta? jangan pernah putus asa, siapapun kita pasti punya andil terhadap perkembangan Bangsa tercinta. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan terhadap Negeri kita tercinta, Hal yang kecil tapi mempunyai peran yang amat vital terhadap masa depan bangsa adalah:
1. Menghemat penggunaan listrik di rumah kita; dengan cara mematikan peralatan yang tidak
digunakan, karena listrik adalah sumber daya yang tidak bisa kita perbaharui.
2. Membuang sampah tempatnya; dengan membung sampah pada tempatnya kita bisa
mengurangi bencana alam banjir yang bisa merugikan negara kita, Bencana banjir yang
terjadi sekarang ini mengakibatkan kas negara berkurang, jika kit bisa mencegh banjir maka
dana tersebut kemungkinan akan dialokasikan untuk pos yang lain seperti pendidikan,
kesehatan, dll.
3. Mengurangi pengunaan kendaraan bermotor; Penggunaan kendaraan bermotor yang
berlebihan mengakibatkan polusi yang sangat menakutkan, bisa kita bayangkan jika
Indonesia penuh dengan Polusi, apa kata Dunia?
Ke dah dulu yah, ntar disambung lagi!
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Salam Pramuka,
Syekh Quro atau Syekh Qurotul Ain Pulobata adalah pendiri pesantren pertama di Jawa Barat, yaitu Pesantren Quro di Tanjung Pura, Karawang pada tahun 1428.
Nama asli Syekh Quro ialah Syekh Hasanuddin atau ada pula yang menyebutnya Syekh Mursahadatillah. Beberapa babad menyebutkan bahwa ia adalah muballigh (penyebar agama) penganut madzhab Hanafi yang berasal dari Makkah, yang berdakwah di daerah Karawang dan diperkirakan datang ke Pulau Jawa melalui Champa atau kini Vietnam selatan.
Dalam menyampaikan ajaran Islam, Syekh Quro melakukannya melalui pendekatan yang disebut Dakwah Bil Hikmah, sebagaimana firman ALLAH dalam Al-Qur’an Surat XVI An Nahl ayat 125, yang artinya : “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan dengan pelajaran yang baik, dan bertukar pikiranlah dengan mereka dengan cara yang terbaik”.
Sebagian cerita menyatakan bahwa pada Tahun 1409, Kaisar Cheng Tu dari Dinasti Ming memerintahkan Laksamana Haji Sampo Bo untuk memimpin Armada Angkatan Lautnya dan mengerahkan 63 buah Kapal dengan prajurit yang berjumlah hampir 25.000 orang untuk menjalin persahabatan dengan kesultanan yang beragama Islam.
Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu rupanya diikutsertakan Syekh Hasanuddin dari Campa untuk mengajar Agama Islam di Kesultanan Malaka, Sebab Syekh Hasanuddin adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin serta Syekh Jalaluddin, ulama besar Makkah.
Bahkan menurut sumber lain, garis keturunannya sampai kepada Sayyidina Husein bin Sayyidina Ali r.a., menantu Rasulullah SAW.
Adapun pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Sam Po Bo lainnya ditugaskan mengadakan hubungan persahabatan dengan Ki Gedeng Tapa, Syahbandar Muara Jati Cirebon dan sebagai wujud kerjasama itu maka kemudian dibangunlah sebuah menara di pantai pelabuhan Muara Jati.
Dikisahkan pula bahwa setelah Syekh Hasanuddin menunaikan tugasnya di Malaka, selanjutnya beliau mengadakan kunjungan ke daerah Martasinga, Pasambangan, dan Jayapura melalui pelabuhan Muara Jati. Kedatangan ulama besar tersebut disambut baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati putra bungsu Prabu Wastu Kancana, Syahbandar di Cerbon Larang (yang menggantikan Ki Gedeng Sindangkasih yang telah wafat). Ketika kunjungan berlangsung, masyarakat di setiap daerah yang dikunjungi merasa tertarik dengan ajaran Islam yang dibawa Syekh Quro, sehingga akhirnya banyak warga yang memeluk Islam.
Kegiatan penyebaran Agama Islam oleh Syekh Hasanuddin rupanya sangat mencemaskan penguasa Pajajaran waktu itu, yaitu Prabu Wastu Kencana atau Prabu Angga Larang yang menganut ajaran Hindu. Sehingga beliau diminta agar penyebaran agama tersebut dihentikan.
Oleh Syekh Hasanuddin perintah itu dipatuhi. Kepada utusan yang datang kepadanya ia mengingatkan, bahwa meskipun dakwah itu dilarang, namun kelak dari keturunan Prabu Angga Larang akan ada yang menjadi seorang Waliyullah. Beberapa saat kemudian Syekh Hasanuddin mohon diri kepada Ki Gedeng Tapa.
Sebagai sahabat, Ki Gedeng Tapa sendiri sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa ulama besar itu, Sebab ia pun sebenarnya masih ingin menambah pengetahuannya tentang Agama Islam. Oleh karena itu, sewaktu Syekh Hasanuddin kembali ke Malaka, putrinya yang bernama Nyai Subang Karancang atau Nyai Subang Larang dititipkan ikut bersama ulama besar ini untuk belajar Agama Islam di Malaka.
Beberapa waktu lamanya berada di Malaka, kemudian Syekh Hasanuddin membulatkan tekadnya untuk kembali ke wilayah Kerajaan Hindu Pajajaran. Dan untuk keperluan tersebut, maka telah disiapkan 2 perahu dagang yang memuat rombongan para santrinya termasuk Nyai Subang Larang.
Sekitar tahun 1418 Masehi, setelah rombongan ini memasuki Laut Jawa, kemudian memasuki Muara Kali Citarum yang pada waktu itu ramai dilayari oleh perahu para pedagang yang memasuki wilayah Pajajaran. Selesai menyusuri Kali Citarum ini akhirnya rombongan perahu singgah di Pura Dalam atau Pelabuhan Karawang. Kedatangan rombongan ulama besar ini disambut baik oleh petugas Pelabuhan Karawang dan diizinkan untuk mendirikan musholla yang digunakan juga untuk belajar mengaji dan tempat tinggal.
Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan Karawang, Syekh Hasanuddin menyampaikan dakwahnya di musholla yang dibangunnya dengan penuh keramahan. Uraiannya tentang agama Islam mudah dipahami, dan mudah pula untuk diamalkan, karena ia bersama santrinya langsung memberi contoh. Pengajian Al-Qur’an memberikan daya tarik tersendiri, karena ulama besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatakan masuk Islam.
Berita tentang dakwah Syeh Hasanuddin (yang kemudian lebih dikenal dengan nama Syekh Quro) di pelabuhan Karawang rupanya telah terdengar kembali oleh Prabu Angga Larang, yang dahulu pernah melarang Syekh Quro melakukan kegiatan yang sama tatkala mengunjungi pelabuhan Muara Jati Cirebon. Sehingga ia segera mengirim utusan yang dipimpin oleh sang putra mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syekh Quro.
Namun tatkala putra mahkota ini tiba di tempat tujuan, rupanya hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. Putra Mahkota (yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi) itu pun mengurungkan niatnya untuk menutup Pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Larang yang cantik itu dan halus budinya.
Lamaran tersebut rupanya diterima oleh Nyai Subang Larang dengan syarat mas kawinnya haruslah berupa “Bintang Saketi”, yaitu simbol dari “tasbih” yang berada di Negeri Makkah.
Sumber lain menyatakan bahwa hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu haruslah masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan syariat Islam. Selain itu, Nyai Subang Larang juga mengajukan syarat, agar anak-anak yang akan dilahirkan kelak haruslah ada yang menjadi Raja. Semua hal tesebut rupanya disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa, sehingga beberapa waktu kemudian pernikahan pun dilaksanakan, bertempat di Pesantren Quro (atau Mesjid Agung sekarang) dimana Syekh Quro sendiri bertindak sebagai penghulunya.
Pernikahan di musholla yang senantiasa menganggungkan asma ALLAH SWT itu memang telah membawa hikmah yang besar, dan Syekh Quro memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam ke keluarga Sang Prabu Siliwangi. Sebab para putra-putri yang dikandung oleh Nyai Subang Larang yang muslimah itu, memancarkan sinar IMAN dan ISLAM bagi umat di sekitarnya. Nyai Subang Larang sebagai isteri seorang raja memang harus berada di Istana Pakuan Pajajaran, dengan tetap memancarkan Cahaya Islamnya.
Putra pertama yang laki-laki bernama Raden Walangsungsang setelah melewati usia remaja, maka bersama adiknya yang bernama Raden Rara Santang, meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran kemudian mendapat bimbingan dari ulama besar yang bernama Syekh Dzatul Kahfi di Paguron Islam di Cirebon. Setelah kakak beradik ini menunaikan ibadah Haji, maka Raden Walangsungsang menjadi Pangeran Cakrabuana memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang, Cirebon.
Sedangkan Raden Rara Santang sewaktu di Makkah diperistri oleh Sultan Mesir yang bernama Syarif Abdullah. Adik Raden Walangsungsang yang bungsu adalah laki-laki bernama Raden Sangara atau Pangeran Kian Santang, pada masa dewasanya menjadi Muballigh untuk menyebarkan agama Islam di daerah Garut.
Adapun kegiatan Pesantren Quro yang lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Karawang, rupanya kurang berkembangnya karena tidak mendapat dukungan dari pemerintah kerajaan Pajajaran. Hal tersebut rupanya dimaklumi oleh Syekh Quro, sehingga pengajian di pesantren agak dikurangi, dan kegiatan di masjid lebih dititik beratkan pada ibadah seperti shalat berjamaah.
Kemudian para santri yang telah berpengalaman disebarkan ke pelosok pedesaan untuk mengajarkan agama Islam, terutama di daerah Karawang bagian selatan seperti Pangkalan. Demikian juga ke pedesaan di bagian utara Karawang yang berpusat di Desa Pulo Kalapa dan sekitarnya.
Dalam semaraknya penyebaran agama Islam oleh Wali Songo, maka masjid yang dibangun oleh Syekh Quro, kemudian disempurnakan oleh para ulama dan Umat Islam yang modelnya berbentuk “joglo” beratap 2 limasan, hampir menyerupai Masjid Agung Demak dan Cirebon.
Pengabdian Syekh Quro dengan para santri dan para ulama generasi penerusnya adalah “menyalakan pelita Islam”, sehingga sinarnya memancar terus di Karawang dan sekitarnya.
Makam Syekh Quro terdapat di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang konon lebih dulu dibandingkan Walisongo tersebut, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Lumbung Padi di Jawa Barat itu.
Dalam sebuah dokumen surat masuk ke kantor Desa Pulokalapa tertanggal 5 November 1992, ditemukan surat keterangan bernomor P-062/KB/PMPJA/XII/11/1992 yang dikirim Keluarga Besar Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII. Surat tersebut ditujukan kepada kepala desa, berisi mempertegas keberadaan makam Syekh Quro yang terdapat di wilayah Dusun Pulobata Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemah Abang bukan sekedar petilasan Syekh Quro tetapi merupakan tempat pemakaman Syekh Quro.
Selain itu, di Dusun Pulobata juga terdapat satu makam yang diyakini warga Karawang sebagai makam Syekh Bentong atau Syekh Darugem, yang merupakan salah seorang santri utama Syekh Quro.
Itulah sejarah pahlawan islam yang juga salah satu waliyullah, oleh karena itu, kami terinspirasi atas jasa-jasanya beliau sehingga namanya kami jadikan nama pasukan di GP Gudep 10103.
* Dari berbagai sumber
Itulah kata pertama yang terucap ketika Ku terpilih menjadi Ketua Dewan Penggalang gudep 10103, aku takut mengemban amanat yang begitu berat. Sekarang ditanganku lah maju dan mundurnya anggota pramuka dan Gerakan Pramuka Gudep 10103.
Namun ketika hati kecil berbisik, ambilah amanat itu krena kau lah yang dipercaya, maka tanpa ragu dengan ucapan Basmalah, ku terima amanat yang dipercayakan kepadaku. sudah 1 Bulan ku menjadi Ketua DP (Pratama) Gudep 10103, dan stu persatu Amanat Muspas aku laksanakan, mulai dari Loyalitas hingga kedisiplinan. semuanya ku coba tuk dilaksanakan.
Sempat terpikir, menjdi Ketua Dewan Penggalang saja sudah sangat berat, apalagi jika menjadi Presiden. dan saya berdo’a semoga Presiden baru nanti bisa melaksanakan amanat rakyat, dan menjadi pemimpin yang bijaksana, adil serta penuh kasih sayang.
(artikel ini berasal dari pernyataan langsung Ketua DP Gudep 10103)

